Mekanisme
inferensi adalah bagian dari sistem pakar yang melakukan penalaran dengan
menggunakan isi daftar aturan berdasarkan urutan dan pola tertentu. Selama
proses konsultasi antar sistem dan pemakai, mekanisme inferensi menguji aturan
satu demi persatu sampai kondisi aturan itu benar. Dalam sistem pakar, proses
inferensi dilakukan dalam suatu modul yang disebut Inferance Engine (Mesin Inferensi).
Secara umum ada dua teknik utama yang digunakan dalam mekanisme
inferensi untuk pengujian aturan, yaitu penalaran maju (forward chaining) dan penalaran mundur (backward chaining). Pada aplikasi ini, backward chaining merupakan metode inferensi yang di terapkan dalam
melakukan penalaran sebagai sistem pakar deteksi kerusakan printer inkjet.
Berikut pengertian dari kedua teknik utama penalaran tersebut.
Penalaran Maju (Forward Chaining)
Forward chaining
merupakan metode inferensi yang melakukan penalaran dari suatu masalah kepada
solusinya. Dalam metode ini, data digunakan untuk menentukan aturan yang akan
dijalankan. Proses diulang sampai ditemuan suatu hasil (Wilson, 1998).
Jika klausa premis sesuai dengan situasi (bernilai
TRUE), maka proses akan menyatakan konklusi. Forward chaining adalah inferensi
dimulai dengan informasi yang tersedia dan baru konklusi diperoleh. Jika suatu
aplikasi menghasilkan tree yang lebar dan tidak dalam, maka gunakan forward chaining.
Gambar Penalaran Maju
Penalaran
Mundur (Backward Chaining)
Merupakan metode penalaran dimulai dengan tujuan
penalaran mundur ke jalur yang akan mengarah ke tujuan tersebut (Giarrattno dan
Riley, 1994). Penalaran mundur disebut juga goal-driven
reasoning, merupakan cara yang efisien untuk memecahkan masalah yang
dimodelkan sebagai masalah pemilihan terstruktur. Tujuan dari inferensi ini
adalah mengambil pilihan terbaik dari banyak kemungkinan. Metode inferensi
runut balik ini cocok digunakan untuk memecahkan masalah diagnosis (Schnupp, 1989).
Gambar Penalaran Mundur
*Dikutip dari beberapa sumber.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar